Gambar Blog

5 toko ritel yang bangkrut tergerus toko online

17-03-2018

Pergeseran tren belanja masyarakat membuat sejumlah toko ritel gulung tikar. Sebab kini masyarakat lebih memilih menggunakan jasa penjualan online seperti e-commerce atau market place.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Tutum Rahanta mengatakan bahwa hal tersebut adalah persaingan yang tidak adil, lantaran pemerintah harus mengatur pajak dan regulasi terkait persaingan antara online dengan yang offline.

Ia menjelaskan bahwa untuk memiliki toko offline saja,perusahaan ritel bahkan harus menepati 50 izin penjualan sebelum mendirikan toko.

 

"Lalu muncul makhluk baru yang cepat, namanya online. Siapapun bisa berjualan tanpa aturan. Kami bahkan ada aturan patokan harga tidak boleh di bawah pasar tradisional. Pemerintah harus jadi juri yang adil," protes Tutum di Cikini, Jakarta Pusat pada 28 Oktober 2017.

Selanjutnya, Tutum menjelaskan bahwa hingga saat ini penjualan secara online masih belum diatur secara layak oleh pemerintah, padahal banyak unsur perizinan terkait seperti mentaati SNI, Badan POM, pajak dan ketenagakerjaan.

Berikut lima toko ritel yang menutup gerainya akibat terjadinya pergeseran tren belanja masyarakat Indonesia.

7-Eleven

Dimulai sejak pertengahan tahun 2017, masyarakat dihebohkan dengan penutupan seluruh gerai 7-Eleven yang mengalami kebangkrutan. 7-Eleven resmi menutup seluruh gerainya pada 30 Juni 2017, hal ini terjadi lantaran adanya beberapa faktor terkait kerugian sebesar Rp 447,9 miliar di kuartal 1 pada tahun 2017.

Kerugian tersebut juga bersumber dari salahnya strategi pemasaran dan target sasaran dari 7-Eleven, contoh kecilnya adalah ketika banyak pengunjung yang datang untuk sekedar membeli minuman atau makanan namun berlama-lama disana selagi menikmati fasilitas yang ada. Hal tersebut menunjukkan adanya pemasukan yang tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh 7-Eleven.

Toko-toko 7-Eleven sejak itu kosong dan tidak berpenghuni, selain itu PT. Modern Internasional terpaksa memberhentikan 1200 hingga 1300 karyawannya. Tak hanya soal salah strategi, 7-Eleven juga bertentangan dengan pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket di tahun 2015 oleh Pemerintah. Terkait dengan peraturan tersebut, 7-Eleven terpaksa menarik semua minuman beralkohol. Padahal salah satu daya tarik 7-Eleven kepada konsumen yang berusia 21 tahun ke atas, adalah minuman beralkoholnya itu sendiri.

Matahari di Pasaraya dan Manggarai

PT. Matahari Department Store terpaksa menutup dua gerainya yang cukup besar di Pasaraya Blok.M dan Pasaraya Manggarai. Penutupan ini terjadi karena menurut pihak manajemen Matahari, unit bisnis ini hanya sebagian kecil dibandingkan bisnis department store yang lebih besar lagi.

Bahkan pihak manajemen sempat mengakui bahwa toko tutup lantaran pusat perbelanjaan sepi pengunjung, sehingga sudah tidak bisa mencapai target. Hal ini menjadi fakta yang mendukung bahwa adanya tren pergeseran belanja masyarakat di mall. Semula mereka berbelanja membeli baju di toko offline, sekarang mereka cenderung mencari hiburan jenis lain ketika pergi ke sebuah mall atau pusat perbelanjaan.

Penutupan kedua toko ritel ini membuat keduanya memberikan diskon besar-besaran dalam rangka menghabiskan persediaan barang. Barang-barang yang dijual, diobral dengan potongan harga hingga 75 persen. Tidak hanya melakukan potongan harga yang fantastis, Matahari juga memberikan bonus 1 barang ketika membeli 1 barang lainnya. Akibatnya, masyarakat sempat berburu habis ke 2 toko ritel ini untuk memborong habis persediaan barang.

Dari penutupan kedia gerai ini, karyawan juga terpaksa dilakukan pemberhentian kerja secara besar-besaran. Banyak karyawan yang mengaku kesulitan untuk mencari kerja pasca PHK yang mereka alami. Walaupun begitu PT. Matahari Department Store akan melakukan ekspansi bisnis lagi dengan membuka gerai-gerai baru hinga akhir tahun 2017.

Mundur dua tahun ke belakang, pada tahun 2015 toko ritel offline juga sudah mulai mengalami pergeseran tren belanja. Perusahaan ritel CD musik Disc Tarra sempat menutup beberapa gerainya di akhir tahun 2015, namun lama kelamaan perusahaan ini resmi menutup 100 gerainya pada tahun 2016.

Disc Tarra merupakan bukti nyata bahwa terjadi pergeseran tren belanja masyarakat. Bagi pecinta musik, bentuk fisik sudah kurang diminati. Zaman sekarang, masyarakat hanya perlu mengunduh musik atau film dari internet, bahkan kemungkinan mengunduh secara ilegal juga menyebabkan Disc Tarra kalah saing. Ini membentuk konsep dimana masyarakat lebih condong kepada digital platform atau streaming yang bisa dinikmati kapanpun tanpa harus membayar sepeserpun.

Pihak manajemen Disc Tarra menjelaskan bahwa penjualan CD dan DVD terus mengalami penurunan selama lima tahun terakhir, sehingga toko ritel CD musik menjadi tidak diminati lagi seperti masa kejayaannya di awal tahun 2000-an.

Senasib seperti toko ritel offline lainnya, menjelang penutupan Disc Tarra mengobral harga barangnya dengan potongan harga yang fantastis. Mengenai prospek bisnis kedepannya, Disc Tarra hingga saat ini belum melakukan ekspaksi untuk beralih menjadi bentuk digital.

Lotus

Bernaung diatas PT. Mitra Adiperkasa (MAP), toko ritel perbelanjaan Lotus yang berlokasi di Thamrin, Jakarta Pusat terpaksa gulung tikar. Rencana penutupan Lotus juga akan merembet ke gerainya di Cibubur Plaza, Grand Galaxy, Bekasi dan Sarinah yang beberapa hari lalu melakukan cuci gudang besar-besaran.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa rencana penutupan 100 gerai Lotus di tahun 2017 nantinya, menjadi tanda bahwa penghasilan penjualan di toko yang kurang menguntungkan. Menjelang penutupan operasional secara total hingga 30 Oktober 2017, Lotus kemudian turut memberikan potongan harga sebesar 80 persen dari harga normal. Tren pergeseran belanja dari offline ke online juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penutupan kedua gerai ini.

Pada kenyataannya, beban operasional Lotus yang meningkat, tidak diseimbangi dengan pemasukan dari penjualan. Walaupun begitu, perusahaan MAP mengaku bahwa mereka akan melakukan ekspansi dengan memanfaatkan gerai merek lainnya hingga mencapai 200 toko hingga akhir tahun 2017, untuk menghindari kerugian atau kebangkrutan secara total.

Debenhams

Masih dibawah naungan MAP, Debenhams toko ritel asal Inggris ini juga mengikuti jejak Lotus yang menutup gerainya. Debenhams menutup toko ritelnya di berbagai tempat seperti Supermall Karawaci, Kemang Village dan Senayan City. Rencana penutupan di akhir tahun 2017 ini juga turut membuat Debenhams memberikan obral dan cuci gudang secara besar-besaran hingga mencapai 80 persen.

Pencucian gudang Debenhams ini juga diikuti dengan rencana penutupan seluruh operasional dari toko ritel Debenhams di Indonesia oleh MAP. Perusahaan yang menaungi beberapa toko ritel ternama itu, pada akhirnya akan berfokus ke beberapa ritel offline, seperti SOGO, SEIBU dan Galleries Lafayette.

Terkait pemberhentian kerja, MAP menjelaskan bahwa ada sebagian karyawan yang masih dipertahankan sebagai karyawan internal, ada yang dipindahkan, namun juga ada yang PHK. Seperti kasusnya para sales yang berjualan untuk produk tertentu, akan dikembalikan ke perusahaan merek masing-masing, namun bagi karyawan internal tetap kemungkinan akan dipindahkan ke jenis ritel sektor atau merek lain yang masih dinaungi oleh MAP. Namun pihak MAP juga mengklaim bahwa mereka masih akan menangani dan memastikan pemenuhan hak kerja dari karyawan.

MAP juga masih memiliki toko ritel dengan merek lain seperti toko ritel sepatu yang masih cukup digandrungi oleh masyarakat seperti Adidas, Converse dan Payless. Selain itu, MAP juga menjelaskan mereka akan berfokus pada investasi toko ritel di sektor makanan seperti Starbucks, Domino’s Pizza dan Burger King.

Ingin memiliki toko online whatsapp Android ?
yuk buat tokomu di https://washoper.com/